Tampilkan postingan dengan label Morfologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Morfologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2011

Pembentukan Kata

Sebuah kata terbentuk melalui sebuah proses pembentukan kata atau proses morfologis. Proses morfologis merupakan proses pengubahan sebuah bentuk satuan gramatikal menjadi sebuah kata yang baru atau dalam linguistik disebut kata jadian.
Ada empat komponen yang terlibat dalam proses morfologis yaitu (1) masukan, (2) proses, (3) keluaran, dan (4) dampak atau akibat. Masukan adalah bahan-bahan pembentukan kata jadian. Bahan-bahan itu disebut bentuk dasar atau satuan gramatikal yang menjadi dasar pembentukan kata jadian. Dalam pengetahuan umum, orang sering menyebut bentuk dasar sebagai kata dasar. Hal ini kurang tepat karena tidak semua bentuk dasar berupa kata.
Proses merupakan cara pembentukan kata baru tersebut. Keluaran merupakan hasil pembentukan kata baru berupa kata jadian. Dampak berkaitan dengan penggunaan kata jadian tersebut dalam satuan kebahasaan yang lebih besar seperti frasa, klausa, dan kalimat. Perhatikan bagan berikut.

Ada tujuh jenis proses morfologis yaitu (1) pengimbuhan, (2) pengulangan, (3) pemajemukan, (4) modifikasi internal, (5) modifikasi kosong, (6) suplesi, dan (7) pemendekan. Pengimbuhan adalah proses melekatkan imbuhan pada bentuk dasar sehingga melahirkan kata jadian berupa kata berimbuhan. Misalnya:
            ter- + cantik → tercantik
            per-an + kampung → perkampungan

Pengulangan merupakan proses mengulang sebagian atau seluruh bentuk dasar menjadi kata ulang. Misalnya:
            bapak → bapak-bapak
            pohon → pepohonan
            berjalan → berjalan-jalan
           
Pemajemukan adalah proses memadukan dua bentuk dasar atau lebih menjadi satu kata jadian bernama kata majemuk. Misalnya:
            rumah + sakit → rumah sakit
            kamar + tidur → kamar tidur
           
Modifikasi internal adalah pembentukan kata dengan mengubah vokal bentuk dasar. Misalnya:
            drink + past → drank
            food + plural → feet

Modifikasi kosong adalah pembentukan kata jadian tanpa mengubah bentuk dasar. Misalnya:
            cut + past → cut
            deer + plural → deer

Suplesi adalah pembentukan kata dengan mengubah total bentuk dasar. Misalnya:
            good + ly → well (bukan goodly)
            mouse + plural → mice (bukan mouses)

Pemendekan adalah proses membentuk kata jadian dengan menanggalkan sebagian dari bentuk dasar.
            Dewan Perwakilan Rakyat → DPR
            tidak → tak
            dan sebagainya → dsb.

Dari ketujuh proses morfologis di atas, hanya ada empat jenis proses yang dikenal dalam bahasa Indonesia yaitu pengimbuhan, pengulangan, pemajemukan, dan pemendekan.
Proses morfologis memiliki tiga dimensi yaitu bentuk, fungsi, dan makna. Bentuk berkaitan dengan apakah proses morfologis itu membuat terjadinya perubahan fonologis atau perubahan bunyi pada unsur-unsur pembentuknya. Misalnya, imbuhan di- yang dilekatkan pada bentuk dasar cium akan membentuk kata jadian dicium. Dalam kata jadian dicium tidak terjadi perubahan fonologis. Hal ini akan lebih jelas jika kata dicium dibandingkan dengan imbuhan me(N)- yang dilekatkan pada bentuk dasar cium menjadi mencium. Salah satu unsur pembentuk yaitu me(N)- mengalami perubahan fonologis menjadi meny-. Proses perubahan semacam ini disebut proses morfofonemis.
Dimensi fungsi dalam proses morfologis berkaitan dengan apakah kelas kata pada bentuk dasar berubah setelah mengalami proses morfologis. Misalnya, bentuk dasar tulis merupakan kata kerja. Setelah dilekati imbuhan me(N)-, bentuk dasar tulis berubah menjadi kata jadian menulis. Kata jadian menulis juga merupakan kata kerja. Oleh karena itu, proses morfologis di atas tidak mengubah kelas kata pada bentuk dasar. Fungsi yang demikian disebut fungsi inflektif.
Sementara itu, apabila bentuk dasar sepatu yang merupakan kata benda dilekati imbuhan ber-, akan dihasilkan kata jadian bersepatu yang merupakan kata kerja. Pada proses morfologis tersebut terjadi perubahan kelas kata pada bentuk dasar ke kata jadian. Fungsi yang demikian disebut fungsi derivatif.
Dimensi terakhir adalah makna. Sebagian besar proses morfologis menghasilkan kata jadian yang memiliki makna gramatikal. Satu-satunya proses morfologis yang menghasilkan kata jadian yang memiliki makna leksikal adalah pemajemukan. Misalnya, bentuk dasar anak yang mengalami proses pengulangan berubah menjadi kata jadian anak-anak yang bermakna ‘banyak anak’. Makna tersebut dikatakan bermakna gramatikal karena masih mempertahankan makna ‘anak’ baik pada bentuk dasar maupun pada kata jadian. Sementara itu, bentuk dasar meja dan hijau yang mengalami proses pemajemukan menjadi meja hijau memiliki makna leksikal baru yaitu ‘pengadilan’. Kata jadian meja hijau yang berarti ‘pengadilan’ tidak dapat dikatakan memiliki makna gramatikal karena makna bentuk dasar meja dan hijau berubah total setelah menjadi meja hijau.

Sumber:
Baryadi, I. Praptomo. 2011. Morfologi dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Penerbit Sanata Dharma.
Wijana, I Dewa Putu. 2009. Berkenalan Dengan Linguistik. Yogyakarta: Pustaka Araska.


Senin, 01 Agustus 2011

Kelas Kata


Kata dapat digolongkan berdasarkan ciri-cirinya. Berdasarkan maknanya kata dapat digolongkan menjadi dua yaitu kata penuh dan kata penuh dan kata tugas. Kata penuh adalah kata yang memiliki makna leksikal. Kata tugas adalah kata yang tidak memiliki makna leksikal dan hanya memiliki makna gramatikal.
Kata penuh meliputi verba, adjektiva, adverbia, nomina, pronomina, dan numeralia. Kata tugas meliputi preposisi, konjungtor, interjeksi, artikula, dan partikel penegas.
Menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga), kata digolongkan menjadi verba, adjektiva, adverbia, nomina, pronomina, numeralia, dan kata tugas.
1.      Verba
Verba sering disebut juga kata kerja. Ciri-ciri verba:
a.       Memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. Misalnya:
·         Kakek tidur.
·         Ibu tidak menulis novel.
b.      Mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
c.       Tidak diberi prefiks ter- yang berarti ‘paling’. Misalnya verba mati dan suka tidak dapat menjadi *termati atau *tersuka.
d.      Pada umumnya tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan seperti agak, sangat, dan sekali karena tidak ada bentuk *agak belajar, *sangat tidur, *duduk sekali meskipun ada bentuk seperti sangat berbahaya, agak membanggakan, dan mengharapkan sekali.
2.      Adjektiva
Adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Adjektiva sering disebut juga kata keadaan. Ciri-ciri adjektiva:
a.       Adjektiva memberikan makna kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan.  Misalnya pohon tinggi, rumah besar, dan baju merah.
b.      Adjektiva dapat berfungsi sebagai predikat dan adverbial (keterangan) kalimat yang dapat mengacu ke suatu keadaan. Misalnya: Ibu sedang sakit.
c.       Adjektiva memiliki kemungkinan untuk menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya dengan menambahkah kata sangat, agak, lebih, atau paling di depan adjektiva tersebut. Misalnya: sangat besar, agak senang, lebih kecil, paling merah.
3.      Adverbia
Dalam tataran frasa, adverbia merupakan kata yang menerangkan verba, adjektiva, atau adverbia lain. Sementara itu, dalam tataran klausa, adverbia merupakan kata yang menerangkan fungsi-fungsi sintaksis dalam klausa itu. Dalam tataran kalimat, adverbia menerangkan seluruh kalimat. Adverbia sering disebut juga kata keterangan.
Contoh:
·         sangat marah (menerangkan kata marah)
·         Aku mau makan nasi saja. (menerangkan fungsi objek yaitu nasi)
·         Anaknya sudah lima (menerangkan fungsi predikat yaitu lima)
·         Tampaknya ia serius. (menerangkan kalimat)
4.      Nomina
Dari segi semantisnya, nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Misalnya dosen, tikus, kursi, bahasa. Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyai ciri-ciri:
a.       Menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap. Misalnya, ayah membelikan adik buku.
b.      Dapat diingkarkan dengan kata bukan seperti bukan buku, bukan rumah, dan tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak karena tidak ada bentuk *tidak buku, *tidak rumah, dsb.
c.       Umumnya diikuti adjektiva, baik secara langsung maupun diantarai kata yang. Misalnya gadis cantik, gadis yang cantik.
5.      Pronomina
Pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu kepada nomina lain.
Misalnya:
·         Kakakku sangat rajin. Ia selalu juara kelas. (pronomina ia mengacu pada kata kakakku)
·         Rumah itu mewah. Lantainya dari marmer. (pronomina -nya mengacu pada rumah)
Pronomina menduduki fungsi sintaksis yang umumnya diduduki oleh nomina seperti  subjek, objek, dan—dalam macam kalimat tertentu—juga predikat. Acuan pronomina dapat berpindah-pindah karena bergantung kepada siapa yang menjadi pembicara/penulis, siapa yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan. Pronomina sering disebut juga sebagai kata ganti.
Ada tiga macam pronomina dalam bahasa Indonesia yaitu:
a.       Pronomina persona
Pronomina persona disebut juga kata ganti orang atau pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang, baik diri sendiri (orang pertama), orang yang diajak bicara (orang kedua), dan orang yang dibicarakan (orang ketiga).
b.      Pronomina penunjuk
Pronomina penunjuk terdiri dari tiga macam yaitu pronomina penunjuk umum, pronomina penunjuk tempat, dan pronomina penunjuk ihwal. Pronomina penunjuk umum ialah ini, itu, dan anu. Pronomina penunjuk tempat ialah sini, situ, sana. Pronomina penunjuk ihwal ialah begini, begitu, dan demikian.
c.       Pronomina penanya
Pronomina penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai pemarkah pertanyaan. Dari segi maknanya yang ditanyakan dapat mengenai orang (siapa), barang atau benda (apa), dan pilihan (mana). Sebenarnya masih ada kata penanya lain meskipun bukan pronomina yaitu kapan, bagaimana, berapa, dan mengapa.
6.      Numeralia
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Ada dua macam numeralia dalam bahasa Indonesia yaitu numeralia pokok/kardinal yang dapat memberi jawab atas pertanyaan “Berapa?” seperti satu, dua, seratus, sejuta, dsb., dan numeralia tingkat/ordinal yang dapat memberi jawab atas pertanyaan “Yang keberapa?” seperti ketiga, kelima puluh, keseribu, dsb.
7.      Kata Tugas
Kata tugas merupakan kelas kata yang hanya memiliki makna gramatikal dan tidak memiliki makna leksikal. Kata tugas baru bermakna apabila dirangkai dengan kelas kata lain. Misalnya di rumah, aku dan kau, setelah kita makan, dll. Kata tugas tidak dapat menjadi dasar pembentukan kata lain. Misalnya, nomina tani dapat diturunkan menjadi kata bertani, petani, pertanian, dsb. Namun kata tugas dari tidak dapat menjadi *mendarikan (me[N]-kan + dari), *pendari (pe[N]- + dari), dsb.
Kata tugas dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi lima berdasarkan peranannya dalam frasa atau kalimat.
a.       Preposisi
Preposisi atau kata depan menandai hubungan makna antara konstituen di depan preposisi tersebut dengan konstituen di belakangnya. Misalnya, dalam frasa tidur di kamar, preposisi di menyatakan hubungan makna keberadaan antara tidur dan kamar. Menurut Prof. Drs. M. Ramlan, preposisi dalam bahasa Indonesia berjumlah 115 kata. Contoh preposisi antara lain: di, ke, dari, kepada, daripada, untuk, sebab, dsb.
b.      Konjungtor
Konjungtor atau kata hubung atau kata sambung adalah kata tugas yang menghubungkan dua satuan kebahasaan yang sederajat: kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa. Misalnya:
·         aku dan kau
·         kenaikan harga serta kemiskinan rakyat
·         Ayah tidur tetapi ibu memasak.
·         Ketika ayah tidur, ibu sedang memasak.
c.       Interjeksi
Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa hati pembicara. Sebenarnya, tanpa interjeksi perasaan pembicara sudah dapat diungkapkan dengan kalimat yang utuh. Namun, keberadaan interjeksi akan memperkuat rasa hati tersebut. Misalnya untuk mengungkapkan betapa indahnya sebuah pemandangan, orang tidak hanya akan berkata, “Indah sekali pemandangan ini”, tetapi orang biasa menggunakan interjeksi amboi sehingga menjadi, “Amboi, indah sekali pemandangan ini.” Dengan kata amboi di atas orang tidak hanya mengungkapkan fakta akan keindahan pemandangan tetapi juga rasa hatinya. Contoh interjeksi misalnya wah, sialan, ayo, nah, dsb.
d.      Artikula
Artikula atau kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna nomina. Artikula memiliki tiga kelompok yaitu (1) yang bersifat gelar seperti sang, sri, hang, dan dang, (2) yang mengacu ke makna kelompok seperti para, (3) yang menominalkan seperti si dan yang.
e.       Partikel penegas
Kategori partikel penegas meliputi kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya. Ada empat macam pertikel penegas yaitu –kah, -lah, -tah, dan pun

Daftar Pustaka
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
 
Copyright (c) 2010 Media Bahasa Indonesia. Design by WPThemes Expert

Blogger Templates, Free Samples And CNA Certification.