Senin, 01 Agustus 2011

Morfem


Bahasa terwujud dalam satuan-satuan kebahasaan. Dalam linguistik dikenal sepuluh satuan kebahasaan yaitu fona, fonem, silabel, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Sepuluh satuan kebahasaan itu dibagi menjadi dua berdasarkan kepemilikan maknanya yaitu satuan kebahasaan yang memiliki makna atau satuan gramatikal dan satuan kebahasaan yang tidak memiliki makna atau satuan fonologis. Yang termasuk satuan gramatikal adalah morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana, sedangkan yang termasuk satuan fonologis adalah fona, fonem, dan silabel. Satuan gramatikal memiliki dua unsur yaitu bentuk dan makna. Bentuk satuan gramatikal berupa struktur fonologis atau urutan fonem. Sementara itu, satuan fonologis hanya memiliki bentuk.  
            Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa morfem merupakan satuan gramatikal yang terkecil. Morfem merupakan salah satu satuan kebahasaan yang memiliki makna atau satuan gramatikal selain kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Dari ketujuh satuan gramatikal tersebut, morfemlah yang terkecil. Artinya, morfem tidak bisa dibagi lagi menjadi satuan gramatikal yang lebih kecil. Karena morfem merupakan satuan gramatikal yang terkecil, morfem juga dapat disebut sebagai unsur langsung pembentuk kata—satuan gramatikal yang satu tingkat lebih besar daripada morfem.
            Menjelaskan morfem memang tidak mudah. Orang biasanya hanya mengenal huruf, suku kata, kata, kalimat, paragraf, lalu karangan utuh atau wacana. Sebuah karangan terdiri dari beberapa paragraf. Sebuah paragraf memiliki beberapa kalimat. Sebuah kalimat terbentuk dari beberapa kata. Kata terbentuk dari suku kata. Suku kata terbentuk dari deretan huruf.
Jika demikian bentuk-bentuk bahasa berupa imbuhan seperti me(N)-, ber-, -an, -em-, atau partikel seperti –lah, -kah, -tah, disebut apa? Bentuk-bentuk tersebut tidak dapat disebut suku kata karena imbuhan atau partikel telah memiliki makna sementara suku kata tidak memiliki makna atau arti. Imbuhan dan pertikel juga tak dapat disebut kata karena bentuk di atas tidak dapat berdiri sendiri karena harus melekat pada bentuk lain. 
            Untuk menjelaskan hal tersebut, para ahli bahasa menciptakan sebuah konsep morfem. Sebuah kata tidak hanya terdiri dari suku-suku kata yang tak bermakna, melainkan dari satu atau lebih bentuk bahasa yang sudah bermakna yaitu morfem.
Untuk mengidentifikasi sebuah morfem, dua unsur satuan gramatikal, yaitu bentuk dan makna, menjadi landasan utama. Ada empat prinsip pokok penentuan morfem. Pertama, satuan kebahasaan yang memiliki dua atau lebih bentuk dan makna yang sama merupakan sebuah morfem. Misalnya, bentuk ajar dalam belajar, pelajar, pengajar, dan pelajaran merupakan satu morfem karena memiliki struktur fonologis dan makna yang sama. Kedua, dua atau lebih bentuk yang sama tetapi maknanya berbeda masih bisa disebut morfem. Misalnya awalan ter- dalam terbawa, tercantik, dan terpercaya. Ketiga, dua atau lebih bentuk yang memiliki struktur fonologis yang berbeda atau hanya mirip tetapi memiliki makna yang sama bisa menjadi sebuah morfem jika perbedaan itu dapat dijelaskan secara fonologis. Misalnya awalan ber- dalam belajar, berlayar, dan bekerja memiliki perubahan struktur fonologis karena berada pada kondisi fonologis yang berbeda. Keempat, satuan kebahasaan yang terbelah di awal dan akhir kata menjadi morfem apabila memiliki kesatuan makna. Misalnya konfiks pe(N)-an dalam penulisan, pembukuan, pemulihan, dan penggambaran.
            Seperti yang telah dijelaskan, morfem sebagai unsur langsung pembentuk kata bersifat abstrak karena ada dalam konsep. Misalnya, kata penjahit merupakan kata yang terdiri dari dua morfem yaitu {pe(N)-} dan {jahit}, sementara itu kata tidur merupakan kata yang terdiri dari satu morfem yaitu {tidur}. Oleh karena itu, morfem perlu direalisasikan. Realisasi dari morfem adalah alomorf. Misalnya morfem {buku} direalisasikan dalam bentuk unsur leksikal buku.
Ada morfem yang memiliki bentuk alomorf yang sama dengan bentuk morfemnya. Misalnya morfem {baca} menjadi membaca, pembaca, membacakan, dan pembacaan. Ada pula morfem yang memiliki bentuk alomorf yang bervariasi dengan bentuk morfemnya. Variasi tersebut muncul karena morfem tersebut memasuki lingkungan yang berbeda—dalam hal ini lingkungan fonologis. Misalnya morfem {me(N)-} memiliki alomorf me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan menge-. Setiap bentuk dari alomorf disebut morf. Jadi sebuah morfem memiliki satu atau lebih variasi yang disebut alomorf dan alomorf tersebut terdiri dari satu atau lebih morf.
            Morfem memiliki beberapa jenis. Berdasarkan bisa tidaknya langsung digunakan dalam frasa atau kalimat, morfem dibagi menjadi dua yaitu (1) morfem bebas dan (2) morfem terikat. Morfem bebas adalah morfem yang tanpa bergabung dengan morfem lain sudah dapat digunakan dalam frasa atau kalimat. Misalnya morfem {pergi} langsung dapat digunakan dalam frasa sedang pergi atau kalimat ibu sedang pergi ke pasar. Dengan kata lain morfem bebas dapat langsung menjadi kata. Kata yang demikian disebut sebagai kata monomorfemik atau kata yang terdiri dari satu morfem saja.
Morfem terikat adalah morfem yang baru bisa digunakan langsung dalam frasa atau kalimat setelah bergabung dengan morfem lain. Dengan kata lain, untuk menjadi sebuah kata, sebuah morfem terikat perlu bergabung dengan morfem lain terlebih dahulu. Yang termasuk dalam morfem jenis ini antara lain: imbuhan, partikel, morfem unik, dan morfem asal terikat.
Misalnya, bentuk juang dan bentuk imbuhan ber- dan per-an masing-masing belum bisa digunakan langsung dalam berbahasa Indonesia. Bentuk juang harus bertemu dengan imbuhan ber- sehingga menjadi berjuang atau dengan per-an menjadi perjuangan supaya dapat digunakan dalam satuan gramatikal yang lebih besar. Bentuk seperti juang di atas termasuk morfem asal terikat. Morfem unik kuyup harus bergabung dengan bentuk basah menjadi basah kuyup sehingga kuyup tersebut dapat memberi makna ‘sangat’.
            Berdasarkan maknanya, morfem terbagi menjadi dua yaitu morfem yang bermakna leksikal dan yang bermakna gramatikal. Makna leksikal berarti makna yang timbul akibat hubungan antara satuan kebahasaan, konsep, dan objek/referen. Maksudnya, makna leksikal melambangkan suatu objek. Misalnya morfem {sepeda} dapat dikatakan memiliki makna leksikal karena morfem {sepeda} sebagai satuan kebahasaan tersebut melambangkan objek yang kita sebut sepeda dengan konsep ‘kendaraan beroda dua atau tiga, memiliki setang, tempat duduk, dan sepasang pengayuh yang digunakan kaki untuk menjalankannya’. Contoh lain antara lain {duduk}, {tonjol}, {juang}, dan {tepis}. Sementara itu makna gramatikal adalah makna yang timbul akibat pertemuan satuan gramatikal yang satu dengan satuan gramatikal yang lain. Misalnya morfem {ber-} dan {me(N)-} hanya memiliki makna gramatikal.
            Perhatikan bagan berikut.

Daftar Pustaka
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
Baryadi, I. Praptomo. 2011. Morfologi dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Penerbit Sanata Dharma.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Ramlan, M. 1980. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: UP Karyono.
Wijana, I Dewa Putu. 2009. Berkenalan Dengan Linguistik. Yogyakarta: Pustaka Araska.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright (c) 2010 Media Bahasa Indonesia. Design by WPThemes Expert

Blogger Templates, Free Samples And CNA Certification.